“Berusahalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, berusahalah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok.”
Mungkin hanya lebay seperti diataslah yang dibolehkan bahkan dianjurkan. Lebay, bahasa pergaulan anak muda saat ini, yang berarti berlebihan. Sementara lebay-lebay yang lain seringkali malah membawa petaka. Gak percaya? Ok, let’s see…
Lebay itu bisa membawa seisi bumi ke jurang krisis. Kelebayan orang Amrik sana yang pada rakus ingin membeli banyak rumah melebihi kemampuan mereka sehingga mendorong penggunaan leverage yang sangat besar. Ditambah lebay-nya lembaga-lembaga keuangan yang memberikan KPR pada orang-orang yang sebenarnya tidak layak diberikan kredit—demi mengejar keuntungan sebesar-besarnya—akhirnya menyebabkan meletuslah gelembung sektor kredit itu. Akibatnya, kita saksikan bersama hingga hari ini dari ujung timur hingga barat, utara hingga selatan tak ada yang mampu menghindar dari imbasnya. Dunia berada dalam krisis keuangan global. Raksasa-raksasa keuangan pun bertumbangan. Pemerintah harus turun tangan ditengah mazhab ekonomi Keynesian yang ingin sebisa mungkin menghindari campur tangan pemerintah.
Lebay juga bisa menyesatkan. Ketika pasar modal kita masih menikmati masa bulan madunya hingga mencapai rekor tertinggi, banyak pihak yang meramalkan IHSG bakal menembus 3000 di 2008. Begitu juga ketika harga minyak sedang meroket hingga menyentuh US$ 147/barrel, bahkan ada yang memprediksi bahwa harga minyak akan tembus US$200/barrel. Kenyataannya kan jauh panggang dari api. Makanya gak usah lebay, kalo lagi seneng jangan kelewatan senengnya, kalo lagi sedih jangan kelewatan juga sedihnya. It’s all about control your emotion.
Pengusaha juga jangan pada lebay. BI rate naik 0,5% langsung teriak-teriak. Sektor riil bakal kolaps. Investasi langsung bakal anjlok. Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memilih kondisi yang ideal. Tidak ada pilihan yang bisa memuaskan semua pihak. Ada prioritas. Pedagang di pasar atau kaki lima saja bisa survive walau harus bayar bunga sampai 30% dari para rentenir.
Kalo semua sudah panik, muncullah lebay-lebay lainnya. Investor (baca:spekulator) ramai-ramai melepas sahamnya. Bursa anjlok, bahkan sempat di-suspend beberapa hari. Padahal jika mereka memang benar ‘berinvestasi’, sepanjang tidak ada perubahan pada fundamental perusahaan, kita tidak perlu panik menjual saham yang sedang kita pegang. Inilah yang akan membedakan investor dengan spekulator. Spekulator mencoba mencari keuntungan dari fluktuasi pasar sedangkan fokus seorang investor adalah dalam hal mendapatkan dan memegang saham yang tepat dengan harga yang tepat. Saham sebagus apapun tidak ada yang imun terhadap naik turunnya harga.
Memang begitulah hukum alam. Semakin tinggi kita terbang akan semakin sakit jatuhnya. Lebay akan melahirkan dua watak manusia yaitu, FEAR dan GREED. Gak percaya? Tanyalah pada para koruptor di negeri ini.
Jadi sekali lagi, jangan pada lebay yah!!
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.