Singapura, negara pulau tetangga kita itu, tengah bersiap-siap untuk menggelar balapan F1 di malam hari. Ini akan menjadi balapan F1 pertama yang dilakukan malam hari. Kabarnya jalanan Singapura yang diubah menjadi sirkuit dadakan akan diterangi 1500 lampu dengan total energi 3,2 juta watt (darimana ya dia dapet daya listrik sebesar itu???). Sebuah langkah yang tampak sulit kita tiru. Kasihan PLN kalo harus menyediakan listrik sebesar itu, untuk mengejar defisit listrik sekarang aja masih ngos-ngosan. Mungkin ada yang ingat dengan kejadian sewaktu Piala Asia kemarin.
Lain lagi Turki, negara yang terkenal dengan sekularismenya, nuansa Ramadhan tetap bisa dirasakan dari acara-acara yang ditampilkan oleh TV setempat. Namun jangan dibayangkan acaranya sama seperti acara-acara yang ada di TV kita. Di Turki para penyanyi dan pelawak kurang begitu laris selama Ramadan. Dalam rangka mengisi Ramadan, TV setempat menayangkan acara ceramah dan tanya jawab seputar agama. Dengan nara sumber yang tidak tampak seperti ulama, memakai setelan jas lengkap dengan dasi, dan tak ada canda tawa yang berlebihan. Sementara di Indonesia, Ramadan adalah ladang subur para pelawak mengais rupiah. Entah waktu sahur atau menjelang buka, acara lawakan-lah yang mendominasi layar kaca kita. Dengan guyonan yang kadang cenderung melecehkan dan kuis-kuis dengan pertanyaan yang ‘gak niat’. Entah nilai apa yang bisa kita petik dari acara seperti itu.
Hmm, apakah kerasnya hidup di negeri ini telah menguras stamina orang Indonesia untuk menonton acara-acara yang lebih dari sekedar lawakan??
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.