Anda berniat untuk mengganti oli mobil. Setibanya di bengkel Anda harus memilih diantara sekian merek oli yang ada. Apakah Anda akan menggunakan Mesran milik Pertamina ataukah merek impor seperti Top 1, Castrol ataupun Pennzoil. Atau ketika Anda akan membeli kartu perdana selular. Apakah Flexi yang menjadi pilihan Anda, ataukah XL, Three atau merek lainnya. Merek-merek yang disebutkan pertama (Mesran, Flexi) merupakan produk lokal dan sisanya merupakan merek asing.
Dalam hal pemilihan merek, banyak kajian-kajian yang dilakukan untuk melihat apakah ada kaitan antara rasa patriotisme atau nasionalisme dengan keputusan pembelian. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Boston Consulting Group , yang melakukan survey terhadap warga Cina. Apakah konsumen rela membayar lebih mahal karena merek yang akan dibeli adalah merek lokal. Apakah kebanggaan sebagai sebuah bangsa akan memengaruhi preferensi seseorang terhadap sebuah merek. Apakah dalam jangka panjang konsumen akan selalu memilih merek lokal.
Kesimpulan dari survey tersebut adalah bahwa sentimen nasionalisme semata tidak bisa dijadikan senjata ampuh keberhasilan suatu merek. Meskipun bila ditanya, warga Cina menjawab bahwa mereka bangga sebagai bangsa Cina dan mempunyai jiwa patriotisme yang tinggi. Namun dalam hal pemilihan merek, pertimbangannya lebih kompleks daripada sekedar nasionalisme. Konsumen lebih menginginkan produk dengan harga yang murah, kualitas yang tinggi dan memiliki ‘aroma’ Cina. Produk dengan ‘aroma’ Cina tidak berarti produk lokal. Bahkan mereka seringkali tidak bisa membedakan mana produk lokal mana produk asing.
Iklan oli Mesran dengan tagline-nya “Anda Untung Bangsa Untung”, jelas-jelas mengusung isu nasionalisme. Sejauh apakah dampaknya terhadap penjualan Mesran memang diperlukan penelitian lebih lanjut. Namun, belajar dari kasus di Cina, rasionalisme mampu mengalahkan nasionalisme dalam hal pemilihan merek. Konsumen akan memilih produk yang mampu memberikan ‘nilai’ yang tinggi. Nilai itu bisa berasal dari harga, kualitas, dan nilai tambah lainnya. Kondisi ini harus dijadikan pelajaran bagi produsen lokal-khususnya BUMN- yang seringkali menggunakan isu nasionalisme untuk mendorong penjualan. Kebanggaan sebagai bangsa bukanlah alasan yang cukup untuk menarik pembeli. Produsen harus fokus untuk memberikan nilai tambah secara fungsional, teknikal maupun emosional kepada konsumen. Ingat Bung, ini abad 21!
2 responses so far ↓
edratna // September 12, 2008 at 8:21 am
Harga tentunya sebanding dengan kualitas merk. Saya tak keberatan bayar lebih mahal, jika kualitas terjamin, entah produk dalam negeri atau bukan.
pramudyaputrautama // September 23, 2008 at 5:10 am
Oli-ku … so pasti pake TOP 1 (abis udah dari dulu, mo ganti Mesran kuatir gak cocok)
Sim card-ku pake kartuHalo … Telkomsel gitu loch … pake terus telkomsel-nya ya