Impulsive Thoughts of Mine

Telepon Murah, Perlu Gak Sih?

August 27, 2008 · 4 Comments

Ingatkah kita tempo dulu kalau ingin menelpon. Apa yang kita pikirkan? Kalau saya sih, kepala ini langsung menghitung berapa uang yang akan saya keluarkan untuk menelpon. Terlebih lagi bila interlokal. Untuk menghemat, mungkin kita lebih sering menelpon dari wartel atau dari telepon murah. Sementara ponsel hanya berfungsi untuk SMS dan menerima telpon saja. Bahkan memiliki ponsel kala itu masih memiliki prestise tersendiri. Harga ponsel dan kartu perdana yang masih mahal ketika itu tentunya membuat si pemilik menjadi ‘naik’ gengsinya. Saya masih ingat tuh, pertama kali beli perdana 250 ribu :)

 

Tapi itu dulu. Kini semuanya berubah drastis. Dengan dimulainya era persaingan baru di dunia telekomunikasi, nelpon mahal benar-benar tinggal sejarah. Operator baru pun bermunculan. Tak kurang terdapat 11 operator saat ini memadati langit-langit Indonesia. Konsumen pun bebas memilih operator sesuai preferensinya.

Pada awalnya, perang di industri telekomunikasi mengusung tema jangkauan layanan. Isu coverage menjadi senjata utama operator untuk menjaring pelanggan. Operator yang memiliki jangkauan paling luaslah yang akan tampil sebagai kampiun. Mungkin kalo kita ingat ada sindiran untuk singkatan GSM saat itu, yaitu Geser Sedikit Mati.

Setelah isu jangkauan mereda karena semua operator terus memperluas layanannya, mulailah industri telekomunikasi memasuki babak baru. Sebagaimana hukum ekonomi, ketika sebuah industri memasuki fase pertumbuhan yang tinggi maka masuklah pemain-pemain baru. Abnormal profit yang telah dinikmati pemain-pemain eksisting menjadi daya tarik masuknya kompetitor baru. Pemain baru ini yang jangkauannya masih terbatas menggunakan isu tarif untuk menggaet pelanggan. Dan dimulailah era perang tarif telepon seluler. Berbagai promosi dan skema tarif ditawarkan oleh operator. Bahkan sampai yang gratis pun ada. Kini orang bisa puas nelpon berjam-jam tanpa khawatir kantongnya jebol. Atau kalau perlu sampai bibirnya dower :)  Hal ini memaksa operator lama ikut-ikut juga perang tarif.

Semakin terjangkaunya layanan selular meningkatkan teledensitas. Kini ponsel dimiliki oleh siapapun dari bermacam kasta. Ponsel ibaratnya sudah menjadi kebutuhan primer. Hal ini tentu baik mengingat sektor telekomunikasi adalah enabler dalam pembangunan ekonomi. Keberadaan sarana telekomunikasi akan mengurangi disparitas harga sehingga akan mengoptimalkan output ekonomi.

Dibalik manfaat positif dari era tarif murah ini, ada dampak lainnya yang harus kita khawatirkan. Kebiasaan ngobrol berlama-lama di telpon bisa mengurangi produktivitas seseorang. Bukankah kita sering menjadi lupa waktu bila sudah menempelkan ponsel ke telinga kita. Kadang tak terasa kita sudah ngobrol berjam-jam. Padahal mungkin saja ada aktivitas lain yang lebih produktif yang bisa kita lakukan. Apakah kita rela bila anak-anak sekolah lebih banyak menghabiskan waktunya bergosip lewat ponsel daripada belajar atau mengerjakan PR-nya. Kalau kita lihat kecenderungan anak sekolah jaman sekarang, mereka seperti tak bisa terpisahkan dengan ponselnya. Bahkan masuk kamar mandi pun ponsel masih ditenteng.

Dampak lainnya adalah terhadap kesehatan. Ada beberapa indikasi bahwa radiasi ponsel bisa mengakibatkan gangguan kesehatan. Gangguan terhadap otak dan telinga bisa diakibatkan karena kebiasaan berlama-lama nelpon. Bahkan konon radiasi ponsel bisa mengakibatkan berkurangnya sel sperma pada laki-laki (Wuihh, gawat tuh!).

Menurut saya murahnya tarif telpon adalah sesuatu yang positif. Namun, kita harus lebih bijaksana dalam penggunaannya. Jangan sampai keberadaannya malah lebih banyak memberikan efek buruk. Bagaimana menurut Anda?

Categories: Obral Kata

4 responses so far ↓

  • aNNo' // August 28, 2008 at 12:32 am

    kayaknya ni cocok masuk kampiun dach sa…..kerennnn…

    hahhhh..radiasi bikin sel sperma berkurang?….parah nech..mana datanya sa?….

  • D // August 28, 2008 at 3:01 am

    Terus terang aja ya, menanggapi issu yang dilempar di sini, walaupun aku kuli di sebuah perusahaan telekomunikasi, tapi akal sehat tetap harus dipake.

    Sebagai seorang ibu, aku menjaga keluarga supaya menggunakan peralatan telekomunikasi secukupnya saja, gak tergantung tarif telepon atau internet yang lagi mahal atau lagi murah. Kalo emang perlu, ya pake. Kalo ga perlu ya nggak diada-adain.

  • reksa // August 29, 2008 at 2:13 am

    @aNNo’

    hehe, itu baru hipotesa no. makanya jangan nyimpen hp di saku celana….

  • pramudyaputrautama // August 30, 2008 at 11:50 am

    Menurut saya murahnya tarif telpon adalah sesuatu yang positif. Namun, kita harus lebih bijaksana dalam penggunaannya. Jangan sampai keberadaannya malah lebih banyak memberikan efek buruk.

    Setuju, tapi kalo tarif telpon murah, kuli-kuli di operator dikasih gaji berapa? padahal perangkat masih harus beli diluar negeri, biaya maintanace juga gak murah … lah konsumen pengennya tarif murah tapi kualitas bagus

    Itu dia mas, konsumen di Indonesia maunya murah dan berkualitas. Mereka inginnya layanan seperti di luar negeri. Padahal kita belum sanggup menghasilkannya dengan biaya yang semurah di luar negeri…

Leave a Comment